Juli 16, 2026

SLOT GACOR Lionel Messi dan Misteri Penalti Lionel Messi kembali menjadi sorotan di Piala Dunia 2026. Kapten Argentina itu mencetak dua gol saat timnya mengalahkan Austria dan sekaligus memecahkan rekor sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia putra.

Namun, di tengah pencapaian luar biasa tersebut, ada satu momen yang kembali memunculkan perdebatan lama. Sebelum mencetak dua golnya, Messi lebih dulu gagal mengeksekusi penalti pada awal pertandingan.

Bagi pemain yang dianggap sebagai salah satu pesepak bola terbaik sepanjang masa, catatan penalti Messi ternyata tidak seistimewa aspek lain dalam permainannya. Statistik menunjukkan bahwa penalti justru menjadi salah satu kelemahan paling nyata dalam karier sang megabintang.

Statistik Penalti Messi Ternyata Tidak Istimewa

Kegagalan penalti melawan Austria menjadi kali ketiga Messi gagal mencetak gol dari tujuh penalti yang ia ambil dalam waktu normal pertandingan Piala Dunia.

Sebelumnya, tendangan penalti Messi pernah digagalkan oleh Wojciech Szczesny saat menghadapi Polandia pada Piala Dunia 2022. Jauh sebelumnya, kiper Islandia Hannes Thor Halldorsson juga berhasil menghentikan eksekusi Messi pada edisi 2018.

Jika diperluas ke level internasional, Messi mencetak 25 gol dari 31 penalti bersama Argentina. Sementara sepanjang karier profesionalnya di level klub dan tim nasional, ia membukukan 116 gol dari 149 penalti.

Artinya, tingkat keberhasilan Messi berada di angka sekitar 77 persen. Angka tersebut sebenarnya masih tergolong baik, tetapi sedikit di bawah rata-rata para eksekutor penalti elite dunia.

Bukan Karena Kaki Kiri Messi

Namun, data statistik tidak mendukung teori tersebut. Jumlah pemain berkaki kiri memang jauh lebih sedikit dibanding pemain berkaki kanan sehingga volume penalti yang mereka ambil juga lebih rendah.

Bahkan, dalam beberapa kasus, pemain kidal justru memiliki keuntungan tersendiri.

Lionel Messi dan Misteri Penalti sendiri sudah menunjukkan kemampuan mengambil penalti sejak usia muda. Pada Piala Dunia U-20 tahun 2005, ia mencetak dua gol penalti ketika Argentina mengalahkan Nigeria 2-1 di final.

Efek Tekanan Psikologis di Lapangan

Ada unsur duel psikologis yang turut berperan besar dalam momen tersebut.

Situasi itu membuat Messi memiliki waktu lebih dari lima menit untuk memikirkan eksekusinya.

Saat mengambil ancang-ancang pendek, Messi memperlambat dua langkah terakhirnya. Tujuannya adalah memancing kiper Austria, Alexander Schlager, agar bergerak lebih dulu.

Namun Schlager tidak terpancing. Ia tetap berdiri tegak dengan kedua tangan terbuka dan menunggu hingga detik terakhir. Ketika Messi akhirnya melepaskan tembakan, konsentrasinya sedikit terganggu dan bola melenceng ke sisi kanan gawang.

“Saya marah. Saya menendangnya dengan sangat buruk,” kata Messi setelah pertandingan.

Pakar penalti Geir Jordet menilai situasi tersebut menjadi contoh bagaimana penjaga gawang modern kini semakin memahami karakter pengambil penalti yang bergantung pada pergerakan kiper.

Kreativitas yang Kadang Menjadi Bumerang

Berbeda dengan banyak eksekutor penalti elite, Messi tidak memiliki pola tendangan yang benar-benar konsisten.

Jorginho memiliki teknik khas dengan lompatan kecil sebelum menendang. Banyak pemain lain juga mengandalkan rutinitas yang sama berulang kali.

Messi justru sebaliknya. Ia sering berganti-ganti metode. Kadang menggunakan kaki bagian dalam, kadang dengan punggung kaki, sesekali menembak keras ke sudut atas, dan tak jarang mencoba penalti panenka.

Pada Piala Dunia 2022, pendekatan itu berjalan sangat baik. Messi berhasil mencetak enam gol dari tujuh penalti yang ia ambil, termasuk dalam final melawan Prancis dan perempat final kontra Belanda.

Dalam semifinal menghadapi Kroasia, ia bahkan menggunakan pendekatan yang berbeda lagi.

Namun pada saat yang sama, pendekatan tersebut juga membuat tingkat keberhasilannya tidak selalu setinggi para spesialis penalti yang mengandalkan rutinitas baku.

Tetap Hebat Meski Memiliki Satu Kekurangan

Sepanjang kariernya, Messi hampir selalu gagal menuntaskan satu musim penuh tanpa setidaknya sekali gagal mengeksekusi penalti.

Ia pernah membentur mistar lewat penalti panenka saat menghadapi Ekuador di Copa America. Teknik yang sama juga pernah gagal ketika menghadapi Charlotte FC dalam laga level klub.

Meski demikian, kelemahan tersebut nyaris tidak pernah mengurangi statusnya sebagai salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Buktinya terlihat jelas saat melawan Austria. Setelah gagal mengeksekusi penalti, Messi bangkit dan mencetak dua gol yang membuatnya memecahkan rekor gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Dunia putra.

Tak ada pemain yang sempurna. Bahkan sosok seperti Messi tetap memiliki kekurangan. Dan jika ada satu area yang paling sering mengingatkan publik bahwa ia juga manusia biasa, area itu adalah titik penalti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *